Gianni Infantino diperkirakan akan tetap menjabat sebagai presiden FIFA meski menghadapi penolakan internal yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tekanan yang kian besar untuk mundur. Setelah pembicaraan krisis maraton dengan staf senior di Maroko pada Rabu, Infantino meyakini ia masih memiliki dukungan politik yang cukup di Amerika Selatan, Afrika, dan Asia untuk melewati badai ini serta menahan desakan yang terus meningkat agar segera meninggalkan jabatannya.
Infantino membela posisinya di Rabat
Menurut Sky Sports, Infantino menuntaskan rapat maraton selama tujuh jam dengan staf senior FIFA pada Rabu sebelum terlihat tersenyum bersama sekretaris jenderal Mattias Grafstrom di sebuah laga Piala Afrika Wanita di Maroko.
Pertemuan itu terjadi setelah gejolak besar menyusul rencana yang gagal untuk menjual saham komersial di Piala Dunia kepada investor swasta, yang mendorong sosok seperti Luis Figo untuk menyerukan agar ia segera mundur.
Namun, Infantino menegaskan bahwa ia bertanggung jawab secara langsung kepada 211 asosiasi anggota yang membentuk FIFA, bukan kepada para pengkritiknya yang vokal. Dengan perhitungan bahwa ia memiliki dukungan kuat dari negara-negara anggota di seluruh Afrika, Asia, dan Amerika Selatan, Infantino tetap bertekad mempertahankan kekuasaan.
Penolakan di dalam komunitas sepak bola kian membesar
Manuver politik itu terjadi di tengah kritik keras dari tokoh-tokoh sepakbola terkemuka. Figo melontarkan penilaian pedas terhadap Infantino, dengan menyebut perilakunya sebagai “perilaku paling rendah, paling penuh tipu daya, dan paling pengecut yang didorong kepentingan pribadi” seraya menegaskan bahwa Infantino telah merendahkan jabatannya dan “harus pergi. Sekarang.”
Sementara itu, Arsene Wenger, kepala pengembangan sepakbola global FIFA, mengambil jarak dari strategi komersial yang dibatalkan tersebut. Wenger secara terbuka menjelaskan bahwa dirinya tidak dilibatkan dalam rencana itu, dengan menyatakan, “Keputusan untuk menarik proyek itu benar-benar perlu dan tidak perlu diperdebatkan, karena saya sangat meyakini FIFA yang independen yang melayani permainan kita dengan komitmen, transparansi, dan integritas.” Pernyataan-pernyataan ini menyoroti perpecahan mendalam yang saat ini memecah organisasi tersebut.
Janji yang diperselisihkan dan aliansi regional
Laporan juga muncul yang menyebut Infantino menawarkan hak tuan rumah untuk final Piala Dunia 2030 kepada Maroko di Stadion Hassan II yang baru di Casablanca sebagai imbalan atas dukungan publik.
Maroko, bersama Spanyol dan Portugal, akan menjadi tuan rumah bersama turnamen 2030, dengan Santiago Bernabeu di Madrid sebelumnya dianggap sebagai kandidat terdepan.
Namun, FIFA bergerak cepat untuk membantah telah memberikan jaminan apa pun terkait partai puncak tersebut. Seorang juru bicara FIFA menjelaskan bahwa “tidak benar dan menyesatkan untuk mengklaim bahwa presiden FIFA membuat janji apa pun terkait penyelenggaraan final Piala Dunia 2030” dan mengonfirmasi bahwa keputusan hanya akan diambil pada waktu yang tepat.
Apa selanjutnya untuk kepresidenan FIFA?
Keputusan kini berada di tangan para pengkritik Infantino untuk menyusun langkah mereka berikutnya terhadap kepemimpinannya. Pihak-pihak yang menentang dapat menggelar rapat darurat Dewan FIFA atau meminta Kongres luar biasa untuk mengajukan mosi tidak percaya secara resmi. Sebagai alternatif, kandidat-kandidat saingan memiliki waktu hingga 18 November untuk ikut dalam persaingan menuju pemilihan presiden mendatang pada Maret, yang akan menghadirkan pertarungan penentu bagi masa depan tata kelola sepakbola.
