Infantino Tetap Maju di Pemilihan FIFA 2027, “Football for All” Jadi Pesan Utamanya

Gianni Infantino tidak menunjukkan tanda-tanda mundur dari persaingan menuju pemilihan Presiden FIFA 2027. Di tengah semakin banyaknya pihak yang mempertanyakan kepemimpinannya, Infantino justru mulai membawa pesan baru: “Football for All”.

Persaingan menuju pemilihan Presiden FIFA 2027 semakin menarik. Infantino memastikan dirinya tetap akan mencalonkan diri untuk mempertahankan jabatan yang sudah dipegangnya sejak 2016. FIFA sebelumnya juga telah mengonfirmasi bahwa pria berusia 56 tahun tersebut akan kembali maju dalam pemilihan tahun depan.

Namun, kali ini langkah Infantino datang dalam situasi yang berbeda. Sejumlah federasi mulai mempertanyakan kepemimpinannya setelah muncul kontroversi terkait rencana FIFA membuka sebagian hak komersial kompetisi kepada investor swasta.

Membawa Gagasan “Football for All”

Infantino memilih membawa pesan yang cukup sederhana untuk menghadapi periode politik FIFA berikutnya.

Ia mengusung slogan “Football for All”, dengan gagasan bahwa sepak bola harus memberikan kesempatan yang lebih luas kepada masyarakat di seluruh dunia.

Menurut Infantino, olahraga ini tidak seharusnya hanya berkembang di negara-negara yang sudah memiliki tradisi sepak bola kuat. Negara dan komunitas yang masih berkembang juga harus mendapatkan kesempatan untuk membangun sepak bolanya sendiri.

Pesan tersebut sekaligus menjadi bagian dari visi Infantino mengenai perkembangan sepak bola secara global. FIFA sendiri memiliki 211 asosiasi anggota dan selama kepemimpinannya, Infantino kerap menempatkan program pengembangan sepak bola di berbagai negara sebagai salah satu agenda utama.

Dukungan Mulai Retak

Meski demikian, jalan Infantino menuju periode berikutnya tidak sepenuhnya mulus.

Beberapa federasi Eropa mulai menarik dukungan terhadap pencalonannya. Prancis menjadi salah satu negara terbaru yang memutuskan tidak lagi mendukung Infantino, sementara Belgia juga telah mengambil sikap serupa.

Masalah utamanya berkaitan dengan kepercayaan terhadap cara FIFA mengambil keputusan. Rencana komersial yang melibatkan investor swasta menjadi salah satu pemicu utama perselisihan antara FIFA dan sejumlah organisasi sepak bola regional.

Proposal tersebut akhirnya gagal diteruskan setelah mendapat tekanan besar dari berbagai pihak. UEFA, AFC, dan CONCACAF termasuk organisasi yang sebelumnya menyuarakan keberatan terhadap rencana tersebut.

Infantino Masih Punya Basis Dukungan Kuat

Menariknya, melemahnya dukungan dari sebagian Eropa belum tentu membuat posisi Infantino berada di ujung tanduk.

Menurut laporan Reuters, Infantino masih memiliki dukungan kuat dari sejumlah blok di luar Eropa, termasuk Afrika, Amerika Selatan, dan Oseania. Karena setiap asosiasi anggota FIFA memiliki satu suara, dukungan dari berbagai konfederasi akan menjadi faktor penting dalam menentukan hasil pemilihan.

Situasi tersebut membuat lawan-lawan Infantino menghadapi persoalan lain. Mereka bukan hanya harus menemukan kandidat yang kuat, tetapi juga harus mampu membangun koalisi global yang cukup besar untuk mengalahkan presiden petahana.

Hingga saat ini, belum ada kandidat yang terlihat mampu mengumpulkan dukungan lintas benua dalam jumlah yang cukup untuk menjadi penantang serius. Presiden Paris Saint-Germain Nasser Al-Khelaifi, yang sebelumnya disebut sebagai salah satu kandidat potensial, juga telah menyatakan tidak berminat maju dalam pemilihan tersebut.

Pemilihan FIFA 2027 Bisa Menjadi Ujian Besar

Pemilihan Presiden FIFA dijadwalkan berlangsung di Rabat, Maroko, pada 18 Maret 2027. Batas akhir pencalonan ditetapkan pada November 2026.

Jika terpilih kembali, Infantino akan mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan kepemimpinannya hingga 2031.

Karena itu, beberapa bulan ke depan akan menjadi periode penting. Infantino harus mempertahankan dukungan dari negara-negara yang masih berada di belakangnya, sementara pihak oposisi harus menemukan cara untuk menyatukan suara dari berbagai penjuru dunia.

Dengan slogan “Football for All”, Infantino kini mencoba menegaskan kembali visi yang ingin dibawanya untuk sepak bola dunia.

Pertanyaannya, apakah pesan tersebut cukup kuat untuk mengatasi gelombang kritik dan mengantarkannya kembali ke kursi Presiden FIFA?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *