Peter Bosz Ungkap Penyesalan di Dortmund: Seharusnya 3 Pemain Langsung Saya Tendang Keluar

Peter Bosz membuka kembali cerita pahit dari masa singkatnya sebagai pelatih Borussia Dortmund. Hampir sembilan tahun setelah meninggalkan klub Jerman tersebut, Bosz mengakui bahwa dirinya melakukan kesalahan besar ketika menghadapi sejumlah pemain senior yang mulai mempertanyakan metode kepelatihannya.

Dalam sebuah masterclass yang diselenggarakan Omroep Brabant, pelatih asal Belanda itu mengungkap bahwa dirinya kini menyesal karena tidak mengambil tindakan tegas sejak awal.

Bosz bahkan menyebut, dengan pengetahuan yang dimilikinya sekarang, ia seharusnya langsung mengeluarkan tiga pemain yang dianggap mulai mengganggu struktur tim.

“Saya seharusnya bertindak saat itu. Saya tidak seharusnya berdiskusi dengan mereka, tetapi harus langsung menendang mereka keluar.”

Cerita tersebut menjadi salah satu pengakuan paling menarik dari periode singkat Bosz di Dortmund, yang awalnya berjalan luar biasa sebelum berubah menjadi mimpi buruk.

Start Sempurna Bersama Dortmund

Bosz tiba di Dortmund pada musim panas 2017 setelah sebelumnya membawa Ajax Amsterdam ke final Liga Europa.

Awalnya, tidak ada alasan bagi siapa pun untuk meragukan keputusan klub menunjuknya.

Dortmund langsung tampil impresif di Bundesliga. Dalam lima pertandingan liga pertama, Bosz membawa timnya meraih lima kemenangan.

Bahkan, Dortmund sempat berada di puncak klasemen dengan keunggulan lima poin atas Bayern Munchen.

Situasi tersebut membuat Bosz terlihat seperti pelatih yang berhasil menemukan formula tepat untuk klub.

Namun, perlahan muncul masalah yang tidak terlihat dari hasil pertandingan.

Kekalahan dari Real Madrid Jadi Titik Penting

Salah satu momen yang menurut Bosz menjadi titik balik adalah pertandingan Liga Champions melawan Real Madrid.

Pada 26 September 2017, Dortmund menjamu Real Madrid di Signal Iduna Park. Dortmund akhirnya kalah 1-3.

Pierre-Emerick Aubameyang mencetak satu gol untuk tuan rumah, tetapi Gareth Bale dan Cristiano Ronaldo dua kali membobol gawang Roman Bürki.

Setelah pertandingan tersebut, menurut cerita Bosz, sejumlah pemain senior mulai mempertanyakan pendekatan yang diterapkannya.

Bosz mengatakan seorang bek tengah, penjaga gawang dan gelandang bertahan duduk bersama dan menyimpulkan bahwa sang pelatih terlalu berani memainkan garis pertahanan tinggi.

Mereka menilai Dortmund terlalu sering maju sehingga memberikan ruang kepada lawan.

Komentar tersebut kemudian menjadi salah satu momen yang paling disesali Bosz.

Tiga Pemain yang Membuat Ruang Ganti Terpecah

Bosz tidak menyebutkan ketiga pemain tersebut secara langsung dalam cerita yang ia sampaikan.

Namun berdasarkan posisi dan susunan pemain Dortmund ketika menghadapi Real Madrid, laporan yang mengutip ceritanya mengarah kepada Sokratis Papastathopoulos, Roman Bürki dan Nuri Sahin.

Ketiganya memang merupakan pemain penting Dortmund pada periode tersebut.

Sokratis menjadi salah satu pemimpin lini belakang, Bürki merupakan penjaga gawang utama, sedangkan Sahin memiliki peran penting di lini tengah.

Data UEFA menunjukkan ketiganya termasuk pemain yang banyak tampil untuk Dortmund di fase grup Liga Champions 2017/18. Sokratis mencatat lima penampilan penuh, Bürki bermain dalam enam pertandingan, sedangkan Sahin tampil dalam tiga laga.

Menurut Bosz, masalahnya bukan semata-mata karena mereka memiliki pendapat berbeda.

Yang membuatnya menyesal adalah dirinya memilih berdiskusi dengan mereka alih-alih mengambil tindakan tegas.

“Mereka Mulai Membuat Tim Terpecah”

Bosz mengaku baru menyadari besarnya dampak situasi tersebut setelah semuanya terlambat.

Ia merasa ketiga pemain itu mulai memengaruhi atmosfer ruang ganti dan membuat pemain lain ikut mempertanyakan metode yang diterapkan pelatih.

Dalam pandangannya sekarang, seorang pelatih tidak selalu bisa menyelesaikan masalah dengan kompromi.

Ada situasi tertentu ketika pelatih harus menunjukkan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangannya.

Bosz mengakui dirinya gagal melakukan hal tersebut di Dortmund.

Dan ketika hasil pertandingan mulai memburuk, masalah internal itu semakin sulit dikendalikan.

Dari Lima Kemenangan Menjadi Satu Kemenangan dalam 13 Laga

Perubahan performa Dortmund berlangsung sangat drastis.

Setelah start sempurna di Bundesliga, Dortmund mulai kehilangan konsistensi.

Tekanan semakin besar setelah timnya tidak mampu mendapatkan hasil yang diharapkan di Liga Champions.

UEFA mencatat Dortmund mengalami kekalahan 1-3 dari Real Madrid di kandang, kemudian hanya bermain imbang melawan APOEL dalam dua pertemuan. Mereka juga kalah dari Tottenham dan Real Madrid pada laga-laga berikutnya.

Bosz akhirnya kehilangan pekerjaannya pada 10 Desember 2017.

Sebelum pemecatan tersebut, Dortmund hanya mampu memenangkan satu dari 13 pertandingan terakhirnya.

Kontrasnya sangat besar: pelatih yang sebelumnya membawa Dortmund memimpin Bundesliga justru harus pergi hanya beberapa bulan kemudian.

Masalah Aubameyang Ikut Memperburuk Situasi

Selain persoalan dengan pemain senior, Bosz juga menghadapi masalah dengan Pierre-Emerick Aubameyang.

Aubameyang saat itu merupakan penyerang utama Dortmund sekaligus salah satu pemain terpenting dalam skuad.

Bosz bercerita bahwa ketika dirinya datang, direktur teknik klub mengatakan tidak akan ada perubahan besar dalam skuad. Namun Aubameyang masih memiliki kemungkinan pindah ke China.

Dortmund bahkan disebut berpotensi mendapatkan sekitar 87 juta euro, sementara sang striker akan memperoleh sekitar 24 juta euro bersih per tahun jika transfer tersebut terjadi.

Namun transfer itu akhirnya gagal.

Situasi menjadi semakin rumit setelah Ousmane Dembélé kemudian dijual ke Barcelona dengan nilai sekitar 140 juta euro.

Aubameyang disebut kecewa karena sebelumnya mendapat kesan bahwa tidak akan ada lagi pemain penting yang meninggalkan klub.

Aubameyang Mulai Datang Terlambat

Bosz kemudian mengungkap bahwa Aubameyang mulai menunjukkan sikap yang membuatnya kesal.

Sang striker disebut datang terlambat ke ruang ganti secara berulang kali.

Bosz sempat memanggilnya dan menanyakan masalah tersebut.

Menurut cerita Bosz, Aubameyang menjelaskan bahwa sikapnya tidak ditujukan secara pribadi kepada sang pelatih, melainkan sebagai bentuk kekecewaan terhadap klub.

Namun situasi kembali memanas ketika Aubameyang menghadirkan sebuah kanal YouTube Prancis yang menyita perhatiannya menjelang pertandingan.

Bagi Bosz, itu menjadi batas kesabarannya.

Ia kemudian tidak memainkan Aubameyang dan bahkan tidak membawanya dalam perjalanan tandang ke Stuttgart.

Louis van Gaal Memberikan Pelajaran Keras

Menariknya, cerita tersebut kemudian dibahas Bosz bersama mantan pelatih tim nasional Belanda, Louis van Gaal.

Van Gaal ingin mengetahui secara detail apa yang sebenarnya terjadi di Dortmund.

Ketika Bosz menceritakan bahwa dirinya memilih berbicara dengan Aubameyang bersama seluruh skuad dan kemudian sang pemain kembali berlatih, Van Gaal justru menganggap keputusan tersebut sebagai kesalahan.

Jawaban Van Gaal kepada Bosz sangat sederhana: Aubameyang seharusnya diusir.

Bosz mengaku terkejut.

Baginya, keputusan tersebut tidak mudah karena Aubameyang merupakan pemain penting dan kemudian memang dijual ke Arsenal pada Januari 2018.

Namun Van Gaal memberikan respons yang membuat Bosz kembali berpikir.

Intinya, jika seorang pelatih tidak berani mengambil keputusan terhadap pemain yang melanggar batas, pada akhirnya posisi pelatih sendiri yang bisa menjadi korban.

Dan beberapa bulan kemudian, Bosz mengakui bahwa perkataan tersebut memang terbukti.

Bosz Mengakui Kesalahannya Bertahun-tahun Kemudian

Pengakuan ini menunjukkan bahwa Bosz kini melihat masa Dortmund dengan perspektif yang berbeda.

Pada saat itu, ia masih mencoba membangun tim berdasarkan prinsip sepak bolanya.

Namun pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa mengelola ruang ganti klub besar tidak hanya berkaitan dengan taktik.

Seorang pelatih juga harus mampu mengendalikan hierarki, karakter pemain, konflik internal, serta menjaga agar semua anggota skuad tetap berada di belakang keputusan pelatih.

Bosz merasa dirinya terlalu banyak berkompromi.

Dan ketika ia akhirnya ingin mengambil tindakan, situasinya sudah terlalu sulit untuk diperbaiki.

Dortmund Menjadi Pelajaran Besar dalam Karier Bosz

Perjalanan Bosz bersama Dortmund memang singkat, tetapi pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian paling penting dalam karier kepelatihannya.

Ia hanya bertugas dari Juni hingga Desember 2017. Namun dalam periode tersebut, Bosz mengalami dua sisi sepak bola yang sangat berbeda.

Di awal musim, ia mampu membawa Dortmund memuncaki Bundesliga dengan lima kemenangan beruntun.

Beberapa bulan kemudian, ia kehilangan pekerjaannya setelah serangkaian hasil buruk.

Kisah tersebut juga memperlihatkan betapa cepat situasi dapat berubah di klub besar.

Satu kekalahan bisa menjadi awal dari masalah. Perbedaan pandangan antara pelatih dan pemain senior dapat berkembang menjadi persoalan ruang ganti. Dan ketika hasil pertandingan mulai memburuk, semua masalah tersebut bisa muncul secara bersamaan.

“Seharusnya Saya Langsung Bertindak”

Pada akhirnya, Bosz tidak lagi mencoba mencari alasan atas kegagalannya di Dortmund.

Ia justru mengakui kesalahannya sendiri.

Jika kembali ke masa tersebut dengan pengalaman yang dimilikinya sekarang, Bosz mengatakan dirinya akan mengambil keputusan yang jauh lebih tegas.

Bukan berdiskusi terlalu lama.

Bukan mencari kompromi.

Tetapi langsung menyingkirkan pemain yang menurutnya mulai merusak struktur tim.

Itulah pelajaran terbesar yang dibawa Peter Bosz dari Dortmund: di klub sebesar Borussia Dortmund, seorang pelatih bukan hanya harus punya filosofi permainan, tetapi juga keberanian untuk mempertahankan otoritasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *