Ethiopia Membuka Persaingan Tuan Rumah AFCON 2028
Persaingan untuk menjadi tuan rumah Piala Afrika 2028 mulai memasuki babak baru. Ethiopia secara resmi mengumumkan pencalonannya untuk menjadi tuan rumah turnamen sepak bola terbesar di Afrika tersebut.
Federasi Sepak Bola Ethiopia menyampaikan pencalonan tersebut ketika tuan rumah AFCON 2028 masih belum ditentukan. CAF sebelumnya memang telah membuka proses pengajuan untuk edisi 2028, 2032, dan 2036 melalui mekanisme bidding resmi.
Pengajuan Ethiopia menjadi perkembangan penting karena negara tersebut memiliki sejarah panjang dengan Piala Afrika dan pernah menjadi tuan rumah kompetisi tersebut di masa lalu.
Ethiopia Ingin Kembali Menjadi Tuan Rumah
Ethiopia bukanlah nama baru dalam sejarah penyelenggaraan Piala Afrika.
Negara tersebut pernah menjadi tuan rumah pada 1962 dan 1976. Bahkan, pada edisi 1962 yang berlangsung di tanah mereka sendiri, tim nasional Ethiopia berhasil meraih gelar juara.
Kini, lebih dari lima dekade setelah terakhir kali menjadi tuan rumah, Ethiopia ingin kembali membawa turnamen terbesar Afrika ke negaranya.
Pencalonan tersebut menjadi kesempatan bagi Ethiopia untuk menunjukkan perkembangan sepak bola dan infrastruktur mereka di panggung internasional.
Sejarah Ethiopia di Piala Afrika
Ethiopia memiliki tempat tersendiri dalam sejarah awal Piala Afrika.
Timnas Ethiopia menjadi runner-up pada edisi perdana turnamen pada 1957 sebelum akhirnya meraih gelar juara pada 1962.
Kesuksesan tersebut menjadikan Ethiopia salah satu negara yang memiliki sejarah penting dalam perkembangan awal kompetisi.
Namun, perjalanan sepak bola Ethiopia mengalami penurunan dalam beberapa dekade berikutnya.
Timnas Ethiopia hanya tampil di putaran final Piala Afrika dua kali pada abad ini, yakni pada 2013 dan 2021.
AFCON 2027 Sudah Memiliki Tuan Rumah
Sementara persaingan untuk edisi 2028 mulai berlangsung, Piala Afrika 2027 sudah memiliki tuan rumah.
Kenya, Uganda, dan Tanzania akan menjadi tuan rumah bersama untuk turnamen yang dijadwalkan berlangsung pada 19 Juni hingga 17 Juli 2027.
Setelah edisi 2027 digelar di Afrika Timur, perhatian kemudian akan beralih kepada negara yang mendapatkan hak penyelenggaraan edisi 2028.
CAF belum menetapkan pemenangnya.
CAF Membuka Proses Bidding
CAF secara resmi mengundang seluruh 54 asosiasi anggota untuk mengajukan penawaran sebagai tuan rumah AFCON 2028, 2032, dan 2036.
Proses tersebut dirancang untuk menghasilkan pemilihan tuan rumah yang transparan dan kredibel.
CAF juga menyiapkan kerangka bidding dengan mempertimbangkan aspek infrastruktur, organisasi, keuangan, tata kelola dan berbagai faktor pendukung lainnya.
Dengan demikian, pengajuan Ethiopia bukan berarti mereka otomatis mendapatkan hak menjadi tuan rumah.
Persaingan Tidak Hanya Milik Ethiopia
Ethiopia bukan satu-satunya negara yang memiliki ambisi menjadi tuan rumah.
Sejumlah negara Afrika juga telah menyatakan minat atau mengajukan proposal untuk edisi 2028.
Salah satu kandidat penting adalah Maroko, yang memiliki pengalaman menyelenggarakan AFCON 2025 serta berbagai turnamen internasional lainnya.
Selain itu, terdapat pula proposal bersama dari negara-negara Afrika bagian selatan.
Laporan terbaru menyebut adanya upaya bersama yang melibatkan Botswana, Afrika Selatan, Namibia dan Zimbabwe untuk membawa AFCON 2028 ke kawasan Afrika Selatan.
Ethiopia Memiliki Tantangan Besar
Meski memiliki sejarah kuat, Ethiopia juga menghadapi sejumlah tantangan jika ingin memenangkan persaingan.
Salah satu faktor penting adalah kesiapan infrastruktur.
CAF membutuhkan stadion, fasilitas latihan, akomodasi, transportasi dan sistem penyelenggaraan yang memenuhi standar internasional.
Selain itu, aspek keamanan juga akan menjadi perhatian dalam proses evaluasi.
Laporan terbaru mengenai pencalonan Ethiopia menyebut adanya tantangan keamanan di sejumlah wilayah negara tersebut yang dapat menjadi salah satu faktor dalam proses penilaian.
Infrastruktur Akan Menjadi Faktor Penting
Untuk menyelenggarakan turnamen sebesar AFCON, sebuah negara membutuhkan lebih dari sekadar stadion utama.
Beberapa kota harus memiliki fasilitas pertandingan yang memadai.
Hotel harus mampu menampung tim, ofisial dan suporter.
Transportasi juga harus mendukung mobilitas ribuan orang selama turnamen berlangsung.
Karena itu, Ethiopia harus membuktikan bahwa mereka mampu memenuhi seluruh kebutuhan tersebut jika ingin memenangkan bidding.
Pengalaman Historis Menjadi Modal Ethiopia
Meski menghadapi tantangan, Ethiopia memiliki satu keunggulan yang tidak bisa diabaikan: sejarah.
Negara tersebut pernah menjadi bagian penting dari perkembangan awal Piala Afrika.
Mereka juga pernah menjadi juara di hadapan pendukung sendiri pada 1962.
Mengembalikan AFCON ke Ethiopia setelah lebih dari 50 tahun tentu akan menjadi cerita yang menarik bagi sepak bola Afrika.
Jika berhasil, turnamen tersebut juga dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kembali popularitas sepak bola di negara tersebut.
Perubahan Besar dalam Kalender AFCON
Piala Afrika 2028 juga memiliki arti khusus karena kompetisi ini memasuki era baru dalam kalender sepak bola Afrika.
CAF telah mengubah siklus AFCON menjadi empat tahunan mulai setelah edisi 2027.
Perubahan tersebut membuat edisi 2028 menjadi bagian penting dalam format baru penyelenggaraan turnamen.
Karena itu, mendapatkan hak sebagai tuan rumah AFCON 2028 akan menjadi kesempatan yang sangat berharga bagi negara mana pun.
Afrika Selatan dan Negara Tetangga Juga Mengincar
Kawasan Afrika bagian selatan memiliki ambisi besar untuk menjadi tuan rumah.
Afrika Selatan sebelumnya sudah pernah menyelenggarakan Piala Afrika pada 1996 dan 2013.
Sementara Botswana, Namibia dan Zimbabwe belum memiliki pengalaman menjadi tuan rumah AFCON senior.
Proposal bersama tersebut dapat menjadi pesaing serius karena menawarkan pengalaman Afrika Selatan sekaligus konsep penyelenggaraan lintas negara.
Maroko Juga Punya Pengalaman Besar
Maroko menjadi salah satu negara yang patut diperhitungkan dalam persaingan.
Negara tersebut baru saja menjadi tuan rumah AFCON 2025 dan memiliki pengalaman menggelar berbagai pertandingan internasional.
Maroko juga sedang mempersiapkan diri untuk berbagai agenda sepak bola besar dalam beberapa tahun mendatang.
Pengalaman tersebut dapat menjadi salah satu keunggulan dalam proses pemilihan tuan rumah.
Persaingan Akan Menjadi Menarik
Dengan semakin banyaknya negara yang menunjukkan ambisi, pemilihan tuan rumah AFCON 2028 berpotensi berlangsung ketat.
Ethiopia membawa sejarah.
Afrika Selatan dan negara-negara tetangganya menawarkan pengalaman serta konsep penyelenggaraan bersama.
Maroko memiliki infrastruktur dan pengalaman terbaru sebagai tuan rumah.
CAF pada akhirnya harus menentukan proposal yang paling memenuhi seluruh persyaratan.
Ethiopia Ingin Menulis Sejarah Baru
Bagi Ethiopia, pencalonan ini bukan sekadar tentang menjadi tuan rumah sebuah turnamen.
Ini juga menjadi kesempatan untuk menghidupkan kembali hubungan mereka dengan Piala Afrika.
Setelah menjadi juara pada 1962 dan terakhir menjadi tuan rumah pada 1976, Ethiopia kini ingin kembali berada di pusat perhatian sepak bola Afrika.
Jika berhasil, AFCON 2028 dapat menjadi salah satu event olahraga terbesar yang pernah digelar negara tersebut dalam beberapa dekade terakhir.
Keputusan CAF Akan Dinanti
CAF masih harus menjalankan seluruh proses evaluasi sebelum menentukan tuan rumah.
Aspek teknis, finansial, infrastruktur, keamanan dan kesiapan organisasi akan menjadi bagian penting dalam penilaian.
Karena itu, pencalonan Ethiopia baru merupakan langkah awal.
Persaingan untuk mendapatkan hak menjadi tuan rumah masih terbuka.
