Era kedua José Mourinho di Real Madrid akhirnya merasakan kekalahan pertama.
Setelah mengawali LaLiga 2026/27 dengan tiga kemenangan beruntun, Real Madrid harus pulang dengan tangan kosong dari markas Real Betis. Bermain di Estadio La Cartuja, Los Blancos kalah tipis 0-1 melalui gol Troy Parrott pada menit ke-81.
Namun, kekalahan tersebut terasa semakin menyakitkan karena Real Madrid sebenarnya memiliki sejumlah peluang untuk mencetak gol. Vinícius Júnior sempat membentur tiang, Carlos Espí mencetak gol yang kemudian dianulir karena offside, dan puncaknya terjadi pada masa injury time ketika Kylian Mbappé gagal mengeksekusi penalti.
Malam yang awalnya diperkirakan menjadi kesempatan Madrid melanjutkan start sempurna justru berubah menjadi pertandingan penuh drama.
Tiga Kemenangan Beruntun Berakhir
Sebelum bertandang ke Sevilla, Real Madrid tampil sempurna di tiga pertandingan pertama LaLiga.
Pasukan Mourinho mengalahkan Osasuna pada laga pembuka, kemudian menundukkan Real Sociedad, sebelum menghancurkan Málaga dengan skor 4-0 di Santiago Bernabéu.
Kemenangan atas Málaga bahkan memperlihatkan betapa tajamnya lini depan Madrid. Jude Bellingham, Kylian Mbappé dan Arda Güler masing-masing masuk papan skor, sementara Mourinho juga mulai menunjukkan kedalaman skuad melalui sejumlah rotasi.
Madrid datang ke pertandingan melawan Betis dengan kepercayaan diri tinggi.
Mbappé juga berada dalam performa bagus setelah mencetak empat gol dalam dua pertandingan terakhirnya sebelum laga tersebut. Bellingham pun menjadi salah satu pemain paling menentukan dalam awal musim Madrid.
Tetapi semua momentum tersebut hilang dalam satu malam.
Betis Bertahan, Madrid Gagal Memanfaatkan Peluang
Pertandingan melawan Betis berlangsung jauh lebih sulit dibandingkan laga-laga sebelumnya.
Tim asuhan Manuel Pellegrini mampu membuat Madrid tidak nyaman dan bertahan dengan disiplin. Madrid tetap memiliki beberapa peluang, tetapi penyelesaian akhir menjadi masalah terbesar.
Vinícius mendapatkan kesempatan yang cukup bagus dan bahkan sempat mengenai tiang.
Madrid terus berusaha mencari celah, tetapi lini pertahanan Betis dan penampilan kiper Álvaro Vallés membuat para penyerang Los Blancos frustrasi. Vallés menjadi salah satu pemain paling penting dalam kemenangan Betis tersebut.
Ketika Madrid gagal mengubah peluang menjadi gol, Betis justru menunggu momen yang tepat.
Dan momen tersebut akhirnya datang pada babak kedua.
Troy Parrott Menghukum Madrid
Gol kemenangan Betis tercipta pada menit ke-81.
Troy Parrott menjadi pahlawan tuan rumah setelah memanfaatkan bola muntah di dalam kotak penalti. Courtois sebelumnya berhasil melakukan penyelamatan, tetapi bola kembali berada di area berbahaya dan Parrott tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.
Skor berubah menjadi 1-0 untuk Betis.
Gol itu membuat Madrid harus meningkatkan tekanan.
Mourinho kemudian mencoba memanfaatkan pemain-pemain yang tersedia dari bangku cadangan untuk mengejar gol penyeimbang.
Madrid akhirnya mendapatkan peluang besar untuk menyelamatkan setidaknya satu poin.
Tetapi drama justru semakin besar.
Gol Carlos Espí Dianulir
Beberapa menit setelah tertinggal, Madrid sempat merasa berhasil mencetak gol penyama kedudukan.
Carlos Espí melakukan penyelesaian spektakuler melalui tendangan salto yang masuk ke gawang Betis.
Stadion sempat bergemuruh, tetapi kegembiraan Madrid tidak berlangsung lama.
Gol tersebut dianulir karena posisi offside.
Keputusan itu membuat Madrid kembali harus mengejar ketertinggalan tanpa gol penyelamat.
Dan setelah itu datang momen yang jauh lebih menyakitkan.
Mbappé Gagal dari Titik Penalti
Pada masa injury time, Real Madrid memperoleh kesempatan emas.
Wasit menunjuk titik putih dan Kylian Mbappé maju sebagai eksekutor.
Jika penalti tersebut masuk, Madrid hampir pasti membawa pulang satu poin dari Sevilla.
Namun, Vallés kembali menjadi pahlawan.
Kiper Betis berhasil menggagalkan eksekusi penalti Mbappé.
Drama belum berhenti di sana karena Madrid masih berusaha mendapatkan peluang tambahan. Bahkan terdapat pemeriksaan VAR terkait kemungkinan penalti diulang karena posisi pemain di dalam kotak penalti.
Pada akhirnya, keputusan tetap tidak mengubah hasil pertandingan. Betis mempertahankan keunggulan 1-0 hingga peluit akhir.
Real Madrid Benar-Benar Menghukum Diri Sendiri
Jika melihat jalannya pertandingan, kekalahan Madrid bukan semata-mata karena Betis bermain lebih dominan sepanjang pertandingan.
Justru masalah terbesar Madrid adalah kegagalan memanfaatkan kesempatan yang mereka miliki.
Mereka mempunyai peluang untuk mencetak gol.
Mereka sempat membentur tiang.
Mereka mencetak gol yang kemudian dianulir.
Mereka mendapatkan penalti.
Tetapi semuanya berakhir tanpa gol.
Inilah yang membuat kekalahan tersebut terasa sangat menyakitkan.
Madrid sebenarnya mampu mengontrol beberapa fase pertandingan, tetapi ketika kesempatan datang, penyelesaian akhir tidak berpihak kepada mereka.
Pertahanan Madrid Sebenarnya Tidak Buruk
Ada satu hal positif yang masih bisa dibawa Mourinho dari pertandingan tersebut.
Real Madrid hanya kebobolan satu gol.
Setelah sebelumnya mencatat kemenangan 4-0 atas Málaga dan menunjukkan perkembangan dalam organisasi pertahanan, Madrid kembali memperlihatkan bahwa mereka cukup solid ketika bertahan.
Namun, satu kesalahan di fase akhir pertandingan membuat semua kerja keras tersebut menjadi sia-sia.
Gol Parrott datang ketika Madrid gagal mengantisipasi situasi bola kedua di kotak penalti.
Dengan kata lain, Madrid tidak kalah karena dihancurkan secara total oleh Betis.
Mereka kalah karena satu momen kecil yang kemudian diperparah oleh kegagalan memanfaatkan peluang sendiri.
Mourinho Akhirnya Mengalami Ujian Pertama
Kekalahan ini menjadi ujian nyata pertama bagi Mourinho sejak kembali menangani Real Madrid.
Tiga kemenangan pembuka memang memberikan kesan bahwa Madrid langsung menemukan identitas baru.
Namun, pertandingan melawan Betis menunjukkan bahwa musim masih sangat panjang.
Mourinho sebelumnya sudah menekankan bahwa pertandingan melawan Betis tidak akan mudah. Dalam konferensi pers sebelum pertandingan, ia bahkan mengatakan bahwa untuk mengalahkan Betis, Madrid harus berada dalam kondisi terbaik.
Peringatan tersebut akhirnya terbukti.
Betis mampu membuat Madrid kehilangan tiga poin dan sekaligus menghentikan catatan sempurna mereka.
Kekalahan Ini Tidak Menghapus Start Positif Madrid
Meski kalah, Madrid tidak perlu langsung panik.
Kekalahan tersebut baru terjadi pada pertandingan keempat LaLiga.
Mereka masih memiliki tiga kemenangan dari empat pertandingan dan telah menunjukkan produktivitas tinggi pada laga-laga sebelumnya.
Yang lebih penting, Mourinho sekarang mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai kelemahan timnya.
Madrid membutuhkan konsistensi dalam penyelesaian akhir.
Ketika menghadapi lawan yang bertahan dengan disiplin, kemampuan menciptakan peluang saja tidak cukup.
Peluang tersebut harus dikonversi menjadi gol.
Mbappé Jadi Sorotan Setelah Penalti Gagal
Tidak mengherankan jika perhatian terbesar setelah pertandingan tertuju kepada Mbappé.
Penyerang Prancis tersebut sebelumnya berada dalam performa yang sangat baik.
Namun, penalti yang gagal pada masa injury time membuat malamnya berubah drastis.
Mbappé sebenarnya bukan satu-satunya pemain Madrid yang gagal memanfaatkan peluang. Tetapi karena penalti merupakan kesempatan paling jelas untuk menyamakan kedudukan, kegagalannya menjadi sorotan utama.
Mourinho harus memastikan situasi tersebut tidak memengaruhi kepercayaan diri Mbappé.
Madrid masih sangat membutuhkan gol-golnya sepanjang musim.
Betis Mendapat Kemenangan Besar
Bagi Betis, kemenangan ini memiliki arti yang jauh lebih besar.
Mereka datang setelah mengalami kekalahan telak 2-5 dari Levante, sehingga pertandingan melawan Madrid menjadi kesempatan untuk bangkit.
Dan Pellegrini berhasil membuat timnya tampil jauh lebih disiplin.
Kemenangan tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa Betis masih mampu menghadapi tim besar meskipun baru saja mengalami hasil buruk.
Troy Parrott pun mendapatkan momen yang tidak akan mudah dilupakan.
Mencetak gol kemenangan melawan Real Madrid dalam salah satu pertandingan terbesar musim ini merupakan awal yang luar biasa bagi sang penyerang di sepak bola Spanyol.
Mourinho Harus Segera Melupakan Kekalahan
Tidak ada waktu lama bagi Real Madrid untuk meratapi kekalahan tersebut.
Madrid akan segera memasuki pertandingan besar lainnya.
Pada 8 September, Los Blancos dijadwalkan menghadapi Inter Milan di Santiago Bernabéu dalam pertandingan pembuka fase grup Liga Champions. Pertandingan tersebut memiliki nilai emosional tersendiri bagi Mourinho karena Inter adalah klub yang pernah ia bawa menjadi juara Liga Champions pada 2010.
Artinya, pertandingan melawan Inter akan menjadi kesempatan pertama Mourinho dan Madrid untuk langsung merespons kekalahan dari Betis.
Jika Madrid menang, kekalahan di Sevilla bisa segera dianggap sebagai satu malam buruk.
Namun jika kembali kehilangan poin, pertanyaan mengenai konsistensi tim Mourinho akan mulai muncul.
Awal Sempurna Berakhir, Tantangan Sebenarnya Dimulai
Kekalahan 0-1 dari Betis bukanlah bencana bagi Real Madrid.
Tetapi pertandingan tersebut memberikan peringatan penting.
Madrid tidak bisa selalu mengandalkan kualitas individu untuk menyelesaikan pertandingan. Ketika peluang datang, mereka harus lebih klinis.
Mourinho berhasil membawa Madrid meraih tiga kemenangan beruntun dan mencetak banyak gol pada awal musim. Tetapi di Sevilla, semua itu tidak berarti ketika tim gagal memanfaatkan kesempatan yang tersedia.
Betis menunjukkan bahwa Madrid masih bisa dikalahkan.
Dan yang paling menyakitkan bagi Los Blancos adalah kenyataan bahwa mereka sebenarnya memiliki banyak kesempatan untuk menghindari kekalahan tersebut.
Satu gol Parrott, satu penalti Mbappé yang gagal, satu gol Espí yang dianulir, dan beberapa peluang yang terbuang membuat Real Madrid mengalami malam gila yang sulit dipercaya.
Kekalahan pertama Mourinho akhirnya datang.
Sekarang, yang lebih penting bukan bagaimana Madrid kalah dari Betis, tetapi bagaimana Mourinho membuat timnya bangkit setelah kekalahan tersebut.
